Wiyono Putro, Gilang Sakti (2026) Pemikiran Arthur Schopenhauer mengenai penderitaan dan relevansinya dalam memahami depresi klinis abad ini. Undergraduate thesis, Widya Mandala Surabaya Catholic University.
|
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (BAB 1)
BAB 1.pdf Download (471kB) |
|
|
Text (BAB 2)
BAB 2.pdf Restricted to Registered users only Download (802kB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 3)
BAB 3.pdf Restricted to Registered users only Download (572kB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 4)
BAB 4.pdf Restricted to Registered users only Download (476kB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 5)
BAB 5.pdf Download (428kB) |
Abstract
Skripsi ini menjelaskan konsep penderitaan dalam pemikiran Arthur Schopenhauer yang digunakan untuk menganalisis depresi klinis dalam kajian neurobiologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian terhadap masalah aktual. Metode yang digunakan meliputi: interpretasi, deduksi, kesinambungan historis, dan deskripsi. Hasil penelitian terhadap pemikiran Schopenhauer terkait penderitaan menunjukkan bahwa secara ontologis penderitaan merupakan kosekuensi dari kehendak metafisis yang buta. Secara epistemologis, penderitaan tampak sebagai kelelahan intelek yang terbatas karena tekanan kehendak yang tak terbatas. Secara aksiologis, penderitaan membuka kemungkinan bagi belas kasih, pembebasan estetis melalui seni, terutama musik sebagai salinan langsung kehendak, dan pada akhirnya asketisme sebagai penyangkalan terhadap kehendak itu sendiri. Depresi dalam neurobiologi dipahami sebagai sebuah perasaan sedih yang mendalam, yang mekanismenya terjadi pada bagian-bagian tertentu pada otak: Amigdala, Hippokampus, subgenual anterior cingulate cortex (sACC), dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), dan ventral striatum. Dalam pemikiran penderitaan Schopenhauer menunjukkan bahwa depresi yang dipahami dalam kajian neurobiologi berada pada posisi ontologis dunia representasi. Selain itu secara epistemologis gangguan pada area terebut dapat dipahami sebagai kelelahan intelek (otak) yang disebabkan oleh gerak kehendak yang tidak terbatas. Secara aksiologis depresi mungkin mereda ketika penderita menikmati musik dan seni lukisan yang dapat membebaskannya dari keterikatan kehendak yang tidak terbatas. Selain itu kehendak tunggal yang menjadi dasar belas kasih juga dapat membantu penderita untuk menangani isolasi yang sering membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Terakhir, asketisme yang diutarakan Schopenhauer mungkin bisa mengurangi intensitas kerja kehendak yang membuat otak penderita kelelahan. Relevansi pemikiran Schopenhauer terhadap depresi di antaranya: memungkinkan psikiater menelusuri akar penderitaan melalui pertanyaan reflektif dan manajemen ekspektasi; menawarkan pendekatan afirmatif-eksistensial yang memandang penderitaan sebagai bagian inheren dari eksistensi sekaligus mendorong Mitleid (belas kasih) untuk melawan stigmatisasi; serta menegaskan perlunya kontemplasi estetis yang didukung temuan ilmiah mengenai efektivitas terapi musik dan seni rupa dalam meredakan penderitaan depresi.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Department: | S1 - Filsafat |
| Contributors: | Contribution Contributors NIDN / NIDK Email Thesis advisor Kino Nara Sri Ratulayn, Kristoforus NIDN0716039003 Kristoforus@ukwms.ac.id |
| Uncontrolled Keywords: | Arthur Schopenhauer, penderitaan, depresi klinis, neurobiologi, kehendak metafisik |
| Subjects: | Philosophy |
| Divisions: | Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program |
| Depositing User: | Gilang Sakti Wiyono Putro |
| Date Deposited: | 12 Jun 2026 09:17 |
| Last Modified: | 12 Jun 2026 09:17 |
| URI: | https://repositori.ukwms.ac.id/id/eprint/46667 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

